Nama: Kaulika Shabrina
D
Npm : 14513782
Contoh kasus Teori Carl Rogers
Roy
adalah seorang anak yang nakal dulunya tidak mau belajar sampai harus dimarahi
dulu baru mau belajar. Ia hanya mau main bersama teman teman sebayanya setiap
pulang sekolah. Sepulang main Ibunya selalu memarahinya karna tidak pernah mau
belajar dan hanya mau main saja. Sampai akhirnya guru matematika di sekolah Roy
mengadakan ulangan yang mendadak. Roy pun tidak dapat mengerjakan ulangan
tersebut dan mendapat nilai yang jelek. Setelah mengetahui bahwa nilai
ulangannya yang jelek di banding teman temannya Roy menjadi rajin belajar.
Setelah pulang sekolah ia selalu belajar dengan tekun. Pada saat ujian sekolah
berlangsung Roy sangat lancar mengerjakan ujian tersebut dan mendapat nilai
tertinggi di kelas. Ibunya sangat bangga dengan Roy dan tidak pernah
memarahinya lagi.
TEORI HUMANISTIK
Belajar
sebagai suatu kegiatan yang dilakukan manusia telah menjadi objek studi para
pakar sejak lama. Teori-teori belajar yang telah dikemukakan kemudian
dikembangkan. Pemikiran dan pemahaman hakekat belajar terus berkembang, sejalan
dengan upaya penelaahan yang terus berlangsung oleh para pakar. Contohnya
Thorpe (1954) mengkonsepsikan belajar sebagai bentuk perubahan nilai,
kecakapan, sikap dan perilaku yang terjadi dengan usaha yang disengaja melalui
rangsangan atau stimuli. Sedangkan perubahan yang terjadi pada diri peserta
didik adalah dalam bentuk tanggapan atau respon terhadap rangsangan tersebut.
Gagne (1970) dan Travers(1972) mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan
disposisi atau kecakapan baru yang terjadi karena adanya suatu usaha yang disengaja.
Sedangkan Munn (1965) berpendapat bahwa belajar itu adalah upaya memodifikasi
tingkah laku sebagai perolehan dari suatu kegiatan, latihan khusus, atau hasil
observasi. Proses belajar pada orang dewasa, yang pada umumnya bersifat
informal, lebih berorientasi kepada penemuan (discovery), lebih organic dan
holistic, melalui proses kognitif pada level operasi konkrit. Beberapa prinsip
belajar berdasarkan konsep dan aliran pembelajaran.
·
Teori
Belajar Humanistik
Teori
belajar humanistic sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian
filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi
belajar. Teori humanistic lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada
proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang
konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta
tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.
Dalam
pelaksanaannya, teori humanistic ini antara lain tampak juga dalam pendekatan
belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Pandangannya tentang belajar bermakna
atau “Meaningful Learning” yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini,
mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari
diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya.
Teori
humanistik berpendapat bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Proses belajar dianggap berhasil jika si
pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses
belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar
dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan
utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai
manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam
diri mereka.
Teori Carl Rogers
Carl R.
Rogers adalah seorang ahli psikologi humanistik yang mempunyai ide-ide yang
mempengaruhi pendidikan dan penerapanya. Melalui bukunya yang sangat populer Freedoom
to Learn and Freedom To Learn For The 80’s, dia menganjurkan pendekatan
pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi,
lebih personal dan berarti. Rogers mengutarakan pendapat tentang
prinsip-prinsip belajar yang humanistik, yang meliputi hasrat untuk belajar,
belajar yang berarti, belajar tanpa ancaman, belajar atas inisiatif sendiri,
dan belajar untuk perubahan.
Adapun
penjelasan konsep masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
(1)
Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
(2)
Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid
mempunyai relevansi dengan maksud – maksud sendiri.
(3)
Belajar yang menyangkut perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri
dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
(4)
Tugas tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan
diasimilasikan apabila ancaman- ancaman dari luar semakin kecil.
(5)
Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah,pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai
cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
(6)
Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
(7)
Belajar diperlancar bilamana siswa melibatkan dalam proses belajar dan ikut
tanggung jawab terhadap proses belajar itu.
(8) Belajar
atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya baik perasaan
maupun intelek,merupakan cara yang memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
(9)
Kepercayaan terhadap diri sendiri,kemerdekaan,kreativitas,lebih mudah dicapai
terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri
dan penilaian dari orang lain merupakan cara ke dua yang penting.
(10)
Belajar yang paling berguna secara sosial didalam dunia modern adalah belajar
mengenai proses belajar,suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap
pengalaman dan penyatuaanya terhadap diri sendiri mengenai proses perubahan
itu.
Hasil
Analisa
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan
kepribadian manusia / individu. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat
kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus
pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam
mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka.
Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan
perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan
perilaku mereka .
Roy
yang belajar karna paksaan sang Ibu sama sekali tidak mempengaruhi dia belajar ,ketimbang
saat Roy belajar atas inisiatif sendiri ia malah mendapatkan hasil yang
memuaskan dan ia dapat memahami lebih dalam.
Sumber :
http://www.psychologymania.com/2011/09/mazhab-dan-aliran-dalam-psikologi.html
Prof.
Dr. W Sarwono (2000) ; Aliran-aliran dan tokoh-tokoh psikologi
No comments:
Post a Comment