hey Lika .. do not forget !

Kaulikasdachh@gmail.com

Monday, March 23, 2015

Sejarah Kesehatan Mental

Nama : kaulika shabrina
NPM : 14513782
Tugas : Kesehatan Mental

Konsep Sehat
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi jugameliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.
Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Konsep sehat berdasarkan:

1. Emosi :Secara emosi dimana seseorang dapat mengendalikan dan menempatkan perasaannya seperti marah,senang, dan sedih.
2. Intelektual :Seseorang yang sehat secara intelektual adalah diamana ia memiliki kemampuan baik dalam suatu keadaan realitas ,yang  memiliki kecerdasan dalam memisahkan masalah serta mengambil keputusan berdasarkan realitas.
3. Sosial :Suatu kondisi dimana seseorang dapat berinteraksi,bekerja sama serta berhubungan baik antar sesama.
4. Fisik :Normal tanpa ada atau mengalami cacat fisik
5. Spiritual :Seseorang yang memiliki ketenangan jiwa sehingga memiliki pemikiran yang jernih ,serta rasional dan menghindari hal-hal yang diluar batas kewajaran.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Secara etimologis kata “mental”berasal dari kata latin,yaitu”mens”atau”mentis” artinya roh,sukma,jiwa,atau nyawa.Di dalam bahasa Yunani,kesehatan terkandung dalam kata hygiene,yang berarti ilmu kesehatan.Kesehatan mental merupakan aspek sangat penting bagi setiap fase kehidupan manusia.Kesehatan mental terentang dari yang baik sampai dengan yang buruk.Setiap orang,mungkin dalam hidupnya mengalami kedua sisi rentangan tersebut,kadang-kadang keadaan mentalnya sangat sehat,tetapi dilain waktu justru sebaliknya.Pada saat mengalami masalah kesehatan mental,seseorang membutuhkan pertolongan orang lain untuk mengatasi masalah yang dihadapinya tersebut.
Sejarah Kesehatan mental merupakan suatu cerminan pemahaman masyarakat tentang gangguan mental dan tindakan yang diberikan. Ada beberapa pandangan mesyarakat terhadap gangguan mental di dunia barat :
•         akibat kekuatan supranatural
•         dirasuki oleh roh/setan
•         dianggap kriminal karena memiliki derajat kebinatangan yang besar
•         dianggap memilaiki cara berpikir irrasional.
•          Dianggap sakit
•          Merupaka reaksi terhadap tekanan/stress maladaptif
•          Melarikan diri dari tanggung jawab

-  Zaman Prasejarah

Manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll

-  Zaman peradaban awal

1. Phytagoras ( orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental )

2. Hypocrates ( Ia berpendapat penyakit / gangguan otak adalah penyebab penyakit mental

3. Plato , menurutnya gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa.

-  Zaman Renaissesus

Pada zaman ini di beberapa negara eropa , para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul.

-  Era Pra-Ilmiah

1. Kepercayaan Animisme

Sejak zaman dulu gangguan mental telah muncul dalam konsep primitif, yaitu kepercayaan terhadap faham animisme bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang Yunani kuno percaya bahwa orang mengalami gangguan mental, karena dewa marah kepadanya dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dan kurban.

2. Kepercayaan Naturalisme

Suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam. Hipocrates (460-367) menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia mengatakan, “Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan mencium bau amis. Tapi anda tidak akan melihat roh, dewa, atau hantu yang melukai badan anda.

Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.

-  Era Modern

Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur dengan air.

Rush melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut melalui penulisan artikel-artikel. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.

Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.

Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

Bebarap tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebut meliputi

1) Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, investigasi, eksperimen, penayangan kasus-kasus, diagnosis, dan pengobatan

2) Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya

3) Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental

4) Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental.

Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation for Mental Health dan The World Health Organization.

-  Mempelajari kesehatan pada berbagai ilmu itu pada prinsipnya bertujuan sebagai berikut:

Memahami makna kesehatan mental dan faktor-faktor penyebabnya.
Memahami pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penanganan kesehatan mental.
Memiliki kemampuan dasar dalam usaha peningkatan dan pencegahan kesehatan mental masayarakat.
Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan mengurangi timbulnya gangguan mental masyarakat.


Sumber:

Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan mental 3, Pandangan umum mengenai penyesuaian diri dan  kesehatan mental serta teori-teori yang terkait; kanisius.

Schultz,Duane(1991),Model-Model Kepribadian Sehat.Yogyakarta:KANISIUS
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat
http://datastudi.wordpress.com/2009/10/26/konsep-sehat-sakit-dan-penyakit-dalam-%20%20konteks-sosial-budaya/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pendekatan-kesehatan-mental/

Sunday, March 15, 2015

SoftSkil Kesehatan Mental

Nama: Kaulika Shabrina D
Npm : 14513782

Contoh kasus Teori  Carl Rogers
Roy adalah seorang anak yang nakal dulunya tidak mau belajar sampai harus dimarahi dulu baru mau belajar. Ia hanya mau main bersama teman teman sebayanya setiap pulang sekolah. Sepulang main Ibunya selalu memarahinya karna tidak pernah mau belajar dan hanya mau main saja. Sampai akhirnya guru matematika di sekolah Roy mengadakan ulangan yang mendadak. Roy pun tidak dapat mengerjakan ulangan tersebut dan mendapat nilai yang jelek. Setelah mengetahui bahwa nilai ulangannya yang jelek di banding teman temannya Roy menjadi rajin belajar. Setelah pulang sekolah ia selalu belajar dengan tekun. Pada saat ujian sekolah berlangsung Roy sangat lancar mengerjakan ujian tersebut dan mendapat nilai tertinggi di kelas. Ibunya sangat bangga dengan Roy dan tidak pernah memarahinya lagi.
TEORI HUMANISTIK
Belajar sebagai suatu kegiatan yang dilakukan manusia telah menjadi objek studi para pakar sejak lama. Teori-teori belajar yang telah dikemukakan kemudian dikembangkan. Pemikiran dan pemahaman hakekat belajar terus berkembang, sejalan dengan upaya penelaahan yang terus berlangsung oleh para pakar. Contohnya Thorpe (1954) mengkonsepsikan belajar sebagai bentuk perubahan nilai, kecakapan, sikap dan perilaku yang terjadi dengan usaha yang disengaja melalui rangsangan atau stimuli. Sedangkan perubahan yang terjadi pada diri peserta didik adalah dalam bentuk tanggapan atau respon terhadap rangsangan tersebut. Gagne (1970) dan Travers(1972) mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan disposisi atau kecakapan baru yang terjadi karena adanya suatu usaha yang disengaja. Sedangkan Munn (1965) berpendapat bahwa belajar itu adalah upaya memodifikasi tingkah laku sebagai perolehan dari suatu kegiatan, latihan khusus, atau hasil observasi. Proses belajar pada orang dewasa, yang pada umumnya bersifat informal, lebih berorientasi kepada penemuan (discovery), lebih organic dan holistic, melalui proses kognitif pada level operasi konkrit. Beberapa prinsip belajar berdasarkan konsep dan aliran pembelajaran.
·         Teori Belajar Humanistik
Teori belajar humanistic sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistic lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.
Dalam pelaksanaannya, teori humanistic ini antara lain tampak juga dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Pandangannya tentang belajar bermakna atau “Meaningful Learning” yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini, mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.    
Teori humanistik berpendapat bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses  belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Teori Carl Rogers
Carl R. Rogers adalah seorang ahli psikologi humanistik yang mempunyai ide-ide yang mempengaruhi pendidikan dan penerapanya. Melalui bukunya yang sangat populer Freedoom to Learn and Freedom To Learn For The 80’s, dia menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal dan berarti. Rogers mengutarakan pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik, yang meliputi hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar tanpa ancaman, belajar atas inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan.
Adapun penjelasan konsep masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
(2) Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud – maksud sendiri.
(3) Belajar yang menyangkut perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
(4) Tugas tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman- ancaman dari luar semakin kecil.
(5) Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah,pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
(6) Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
(7) Belajar diperlancar bilamana siswa melibatkan dalam proses belajar dan ikut tanggung jawab terhadap proses belajar itu.
(8) Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya baik perasaan maupun intelek,merupakan cara yang memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
(9) Kepercayaan terhadap diri sendiri,kemerdekaan,kreativitas,lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara ke dua yang penting.
(10) Belajar yang paling berguna secara sosial didalam dunia modern adalah belajar mengenai proses belajar,suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuaanya terhadap diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Hasil Analisa
Jadi dapat disimpulkan bahwa Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia / individu. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka .
Roy yang belajar karna paksaan sang Ibu sama sekali tidak mempengaruhi dia belajar ,ketimbang saat Roy belajar atas inisiatif sendiri ia malah mendapatkan hasil yang memuaskan dan ia dapat memahami lebih dalam.

Sumber :
http://www.psychologymania.com/2011/09/mazhab-dan-aliran-dalam-psikologi.html
Prof. Dr. W Sarwono (2000) ; Aliran-aliran dan tokoh-tokoh psikologi